Senin, 11 Mei 2015

Opini

Oleh : Trudy Johanna

Menjalin Persahabatan di Tengah Pusaran Kemajemukan :
Refleksi Hidup Toleransi dari Raden Saleh



“Dua kutub yang saling bertentangan, namun keduanya cerah dan ramah, seperti kekuatan sihir sakti yang memengaruhi jiwaku. Di sana, taman firdaus masa kecilku di bawah terik matahari dan keluasan Samudra Hindia yang gemuruh, tempat tinggal orang-orang yang kucintai, dan tempat abu nenek-moyangku bersemayam. Di sini, Eropa, negara-negara paling beruntung, tempat kesenian, ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi berkilau bagai intan permata, yang memikat gairah masa mudaku, dapat kutemukan lebih banyak dibanding impian kampung halamanku, di mana aku begitu bahagia, di  antara sahabat-sahabat baikku, sebagai pengganti ayah, ibu, dan saudara-saudariku-hatiku terbagi untuk keduanya. Semua itu mendorongku memberi persembahan sebagai wujud terima kasih dan kasih sayangku kepada keduanya... Tentu para sahabatku dapat mengerti dan menghargai.“
-Raden Saleh, Maxen 1848
---
Simpul waktu menuntun kami ke hari ini. Hari ketika kami saling berpadu inovasi, bekerja sama usai sebelumnya tak saling mengenal. Ya, kami, pelajar-pelajar XI-IPA 2, segerombol anak muda dengan perbedaan multiaspek. Isu diversitas memang pernah menyambangi kelas kami. Tak sebatas pluralitas seperti yang biasa tertulis di buku-buku pendidikan kewarganegaraan, layaknya jenis kelamin, agama, ras, maupun suku bangsa. Lebih dari itu, perbedaan perspektif dalam banyak hal sempat menunda hadirnya solidaritas di antara kami.

Bila Anda pun mengalami situasi yang serupa, menyadari adanya “kekurangberesan” dalam pergaulan di kelas maupun di masyarakat akibat diversitas, tak ada salahnya bila bersama kami, Anda berkaca sejenak pada perjalanan hidup Raden Saleh, maestro seni lukis, tokoh bangsa dan cendekiawan terpuji milik Indonesia. 





Jalan Hidup Sang Cendikiawan
Karyanya menjadi koleksi Ratu Elizabeth II dan dipajang di museum-museum seni dunia. Dialah Raden Saleh, pelukis pertama Indonesia yang merambah Eropa. Raden Saleh berani mengikuti cita-citanya untuk terus menimba ilmu di Eropa, kendatipun dibayangi pengawasan penjajah. Langkahnya dimulai ketika Raden Saleh kecil meraih kesempatan belajar menggambar. Tak hendak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Raden Saleh lantas mengembangkan minat ke berbagai bidang ilmu. Meliputi juga ilmu botani, ilmu ukur tanah, geologi, paleontologi hingga filsafat. Imu-ilmu inilah yang membuat setiap detail karya seni yang dibuat Raden Saleh terukur dan bermakna.

Sebagai cendikiawan, Raden Saleh memberikan darma untuk kemajuan ilmu pengetahuan di Indonesia. Seusai kepulangannya dari Eropa, Raden Saleh berkiprah melakukan kegiatan keilmuan. Diantaranya pengamatan Gunung Merapi dan penggalian fosil purba di Jawa. Ia juga menyelamatkan banyak artefak, termasuk naskah kuno abad ke-15 yang berisi sejarah Kerajaan Pajajaran.

Ia turut merintis lembaga ilmu pengetahuan di Nusantara. Menjadi penyumbang pada perkumpulan di Batavia untuk seni dan ilmu pengetahuan, sebuah lembaga yang menjadi cikal bakal Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Bahkan ia mengubah sebagian dari pekarangan rumahnya di Cikini, Jakarta, menjadi kebun binatang untuk tempat masyarakat umum mempelajari dunia hewan.

Sebagai maestro, Raden Saleh berperan memajukan pendidikan seni di Indonesia. Pada tahun 1860-an, Raden Saleh menghasilkan serial pelajaran menggambar yang amat bermutu. Buku cetakan itu bermanfaat bagi siswa-siswa sekolah di tanah air.

Raden Saleh dan Diversitas Dua Dunia
Terlepas dari prestasi-prestasinya di kancah dunia, baik dalam dunia seni maupun ilmu pengetahuan, Raden Saleh secara pribadi telah lebih dulu mengalami apa yang kita saat ini alami. Pergaulan dalam diversitas. Sejak usia dini Raden Saleh terpaksa berpisah dengan keluarga dan kerabat, bahkan harus meninggalkan Tanah Jawa pada tahun 1829. Saat kembali, Raden Saleh juga harus menghadapi kecurigaan dan kebencian kaum kolonialis.

Kendatipun demikian, semasa tinggal di Eropa, Raden Saleh berhasil menjalin persahabatan dengan masyarakat Eropa. Posisinya sebagai pribadi Timur tak menjadikannya sungkan untuk belajar kepada pelukis-pelukis asal Belanda, Jerman, dan negara-negara Eropa lainnya. Pribadinya yang terbuka dan toleransi terhadap perbedaan membuat sosoknya dihormati di sana. Tak hanya itu, keluarga angkatnya, Mayor Serre dan istrinya, di Dresden – Jerman, sampai-sampai mendirikannya surau cantik bagi Raden Saleh yang Muslim. Sungguh sisi indah dari pergaulan dalam pusaran kemajemukan. 



Sebaliknya, sikap hidup bertoleransi dan terbuka terhadap perbedaan tak menjadikannya kehilangan jati dirinya. Di tengah kemilau kemakmuran hidup bangsa-bangsa barat, Raden Saleh tak sekalipun lupa derita rakyat-rakyat setanah airnya yang kala itu masih hidup di bawah jerat penjajahan Belanda. Sikap Raden Saleh terukir jelas lewat karya-karya lukisnya. Tengok saja lukisan bersejarah berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro serta drama Pertarungan antara Banteng dan Singa. Sangat jelas posisinya yang berseberangan terhadap penindasan atas tanah air dan saudara-saudaranya sebangsa. Raden Saleh menambahkan pada kepekaan jiwanya - yang diwarisi sebagai orang Timur, penguasaan ilmu pengetahuan dan prinsip-prinsip kesamaan derajat umat manusia - yang dipelajarinya di Jerman. Hal tersebut menjadi salah satu faktor mengapa lukisan-lukisannya tampak berbeda dengan karya pelukis Eropa.

Penutup
Berguru pada seniman seribu kawan, Raden Saleh, baiklah kita belajar bagaimana ia menyikapi jurang perbedaan barat dan timur yang terbentang di hadapannya – hampir sepanjang masa hidupnya. Setidaknya, terdapat tiga hal yang dapat kita pelajari dari Raden Saleh. Ketiga hal tersebut antara lain sebagai berikut.
1.       Berdamailah dengan perbedaan
Perbedaan, sejauh tidak melanggar nilai-nilai keadilan dan kebenaran, bukan hama yang harus dibasmi. Sadarilah bahwa sejatinya setiap orang memiliki pola pikir, pengalaman, dan cita-cita yang berbeda di masa mendatang. Menerima perbedaan adalah awal yang baik dalam membangun relasi dengan orang lain. Seperti Raden Saleh yang menerima kenyataan bahwa masyarakat Eropa berbeda budaya, agama, dan kerangka berpikir dengannya. tidak menerima bahwa orang lain berbeda dengan kita, justru akan membuat kita terdorong untuk memaksakan kehendak kepada orang lain.

2.       Tetap berkarya
Sekalipun tengah tinggal di negeri orang, Raden Saleh tidak pernah berhenti belajar. Lebih dari itu, ia justru memanfaaatkan jaringan pergaulannya untuk belajar berbagai bidang pengetahuan dari kawan-kawannya yang Eropa. Bagi seorang pribumi tanpa kekayaan yang melimpah, adakah cara lain untuk menguasai ilmu botani, ilmu ukur tanah, geologi, paleontologi hingga filsafat selain berguru dari orang lain? Sama halnya dengan sosok Raden Saleh, demikianlah hendaknya kita juga menyikapi perbedaan. Dengan adanya perbedaan, kita dapat saling melengkapi dan berguru satu sama yang lain.

3.       Jalin Persahabatan!
Di balik sekelumit perbedaan, tentu terdapat secercah sinar persamaan. Pada kelas XI-IPA 2, contohnya, sekalipun terdapat perbedaan di antara kami, tak dapat dipungkiri, kami pun melihat adanya persamaan-persamaan yang mampu menjembatani hasrat menjalin persahabatan satu sama yang lain. Terkadang, persamaan tersebut terletak pada hal-hal kecil, seperti tim sepak bola favorit. Di lain waktu, persamaan dapat pula terletak pada hal-hal yang lebih besar, layaknya keinginan untuk naik kelas maupun cita-cita di masa mendatang.

Akhir kata, jangan mau kalah dengan perbedaan-perbedaan yang merintangimu. Tetap semangat dalam membangun jembatan-jembatan perkawanan dengan siapa saja, seperti yang dilakukan sang maestro – Raden Saleh.


0 komentar:

Posting Komentar