Menjalin Persahabatan di Tengah Pusaran Kemajemukan :
Refleksi Hidup Toleransi dari Raden Saleh
“Dua kutub
yang saling bertentangan, namun keduanya cerah dan ramah, seperti kekuatan
sihir sakti yang memengaruhi jiwaku. Di sana, taman firdaus masa kecilku di
bawah terik matahari dan keluasan Samudra Hindia yang gemuruh, tempat tinggal
orang-orang yang kucintai, dan tempat abu nenek-moyangku bersemayam. Di sini,
Eropa, negara-negara paling beruntung, tempat kesenian, ilmu pengetahuan dan
pendidikan tinggi berkilau bagai intan permata, yang memikat gairah masa
mudaku, dapat kutemukan lebih banyak dibanding impian kampung halamanku, di
mana aku begitu bahagia, di antara
sahabat-sahabat baikku, sebagai pengganti ayah, ibu, dan
saudara-saudariku-hatiku terbagi untuk keduanya. Semua itu mendorongku memberi
persembahan sebagai wujud terima kasih dan kasih sayangku kepada keduanya...
Tentu para sahabatku dapat mengerti dan menghargai.“
-Raden
Saleh, Maxen 1848
---
Simpul waktu
menuntun kami ke hari ini. Hari ketika kami saling berpadu inovasi, bekerja
sama usai sebelumnya tak saling mengenal. Ya, kami, pelajar-pelajar XI-IPA 2,
segerombol anak muda dengan perbedaan multiaspek. Isu diversitas memang pernah
menyambangi kelas kami. Tak sebatas pluralitas seperti yang biasa tertulis di
buku-buku pendidikan kewarganegaraan, layaknya jenis kelamin, agama, ras,
maupun suku bangsa. Lebih dari itu, perbedaan perspektif dalam banyak hal
sempat menunda hadirnya solidaritas di antara kami.
Bila Anda pun
mengalami situasi yang serupa, menyadari adanya “kekurangberesan” dalam
pergaulan di kelas maupun di masyarakat akibat diversitas, tak ada salahnya
bila bersama kami, Anda berkaca sejenak pada perjalanan hidup Raden Saleh, maestro
seni lukis, tokoh bangsa dan cendekiawan terpuji milik Indonesia.
Jalan Hidup Sang Cendikiawan
Karyanya
menjadi koleksi Ratu Elizabeth II dan dipajang di museum-museum seni dunia.
Dialah Raden Saleh, pelukis pertama Indonesia yang merambah Eropa. Raden Saleh
berani mengikuti cita-citanya untuk terus menimba ilmu di Eropa, kendatipun
dibayangi pengawasan penjajah. Langkahnya dimulai ketika Raden Saleh kecil
meraih kesempatan belajar menggambar. Tak hendak menyia-nyiakan kesempatan yang
ada, Raden Saleh lantas mengembangkan minat ke berbagai bidang ilmu. Meliputi
juga ilmu botani, ilmu ukur tanah, geologi, paleontologi hingga filsafat. Imu-ilmu
inilah yang membuat setiap detail karya seni yang dibuat Raden Saleh terukur
dan bermakna.
Sebagai
cendikiawan, Raden Saleh memberikan darma untuk kemajuan ilmu pengetahuan di
Indonesia. Seusai kepulangannya dari Eropa, Raden Saleh berkiprah melakukan
kegiatan keilmuan. Diantaranya pengamatan Gunung Merapi dan penggalian fosil
purba di Jawa. Ia juga menyelamatkan banyak artefak, termasuk naskah kuno abad
ke-15 yang berisi sejarah Kerajaan Pajajaran.
Ia turut
merintis lembaga ilmu pengetahuan di Nusantara. Menjadi penyumbang pada
perkumpulan di Batavia untuk seni dan ilmu pengetahuan, sebuah lembaga yang
menjadi cikal bakal Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Bahkan ia mengubah
sebagian dari pekarangan rumahnya di Cikini, Jakarta, menjadi kebun binatang
untuk tempat masyarakat umum mempelajari dunia hewan.
Sebagai
maestro, Raden Saleh berperan memajukan pendidikan seni di Indonesia. Pada
tahun 1860-an, Raden Saleh menghasilkan serial pelajaran menggambar yang amat
bermutu. Buku cetakan itu bermanfaat bagi siswa-siswa sekolah di tanah air.
Raden Saleh dan Diversitas Dua Dunia
Terlepas dari
prestasi-prestasinya di kancah dunia, baik dalam dunia seni maupun ilmu pengetahuan,
Raden Saleh secara pribadi telah lebih dulu mengalami apa yang kita saat ini
alami. Pergaulan dalam diversitas. Sejak
usia dini Raden Saleh terpaksa berpisah dengan keluarga dan kerabat, bahkan
harus meninggalkan Tanah Jawa pada tahun 1829. Saat kembali, Raden Saleh juga
harus menghadapi kecurigaan dan kebencian kaum kolonialis.
Kendatipun
demikian, semasa tinggal di Eropa, Raden Saleh berhasil menjalin persahabatan
dengan masyarakat Eropa. Posisinya sebagai pribadi Timur tak menjadikannya sungkan
untuk belajar kepada pelukis-pelukis asal Belanda, Jerman, dan negara-negara
Eropa lainnya. Pribadinya yang terbuka dan toleransi terhadap perbedaan membuat
sosoknya dihormati di sana. Tak hanya itu, keluarga angkatnya, Mayor Serre dan
istrinya, di Dresden – Jerman, sampai-sampai mendirikannya surau cantik bagi
Raden Saleh yang Muslim. Sungguh sisi indah dari pergaulan dalam pusaran
kemajemukan.
Sebaliknya,
sikap hidup bertoleransi dan terbuka terhadap perbedaan tak menjadikannya
kehilangan jati dirinya. Di tengah kemilau kemakmuran hidup bangsa-bangsa
barat, Raden Saleh tak sekalipun lupa derita rakyat-rakyat setanah airnya yang
kala itu masih hidup di bawah jerat penjajahan Belanda. Sikap Raden Saleh
terukir jelas lewat karya-karya lukisnya. Tengok saja lukisan bersejarah
berjudul Penangkapan Pangeran Diponegoro serta drama Pertarungan
antara Banteng dan Singa. Sangat jelas posisinya yang berseberangan
terhadap penindasan atas tanah air dan saudara-saudaranya sebangsa. Raden Saleh
menambahkan pada kepekaan jiwanya - yang diwarisi sebagai orang Timur,
penguasaan ilmu pengetahuan dan prinsip-prinsip kesamaan derajat umat manusia -
yang dipelajarinya di Jerman. Hal tersebut menjadi salah satu faktor mengapa
lukisan-lukisannya tampak berbeda dengan karya pelukis Eropa.
Penutup
Berguru pada
seniman seribu kawan, Raden Saleh, baiklah kita belajar bagaimana ia menyikapi
jurang perbedaan barat dan timur yang terbentang di hadapannya – hampir
sepanjang masa hidupnya. Setidaknya, terdapat tiga hal yang dapat kita pelajari
dari Raden Saleh. Ketiga hal tersebut antara lain sebagai berikut.
1.
Berdamailah dengan perbedaan
Perbedaan, sejauh tidak melanggar nilai-nilai keadilan
dan kebenaran, bukan hama yang harus dibasmi. Sadarilah bahwa sejatinya setiap
orang memiliki pola pikir, pengalaman, dan cita-cita yang berbeda di masa
mendatang. Menerima perbedaan adalah awal yang baik dalam membangun relasi
dengan orang lain. Seperti Raden Saleh yang menerima kenyataan bahwa masyarakat
Eropa berbeda budaya, agama, dan kerangka berpikir dengannya. tidak menerima
bahwa orang lain berbeda dengan kita, justru akan membuat kita terdorong untuk
memaksakan kehendak kepada orang lain.
2. Tetap berkarya
Sekalipun tengah tinggal di negeri orang, Raden Saleh
tidak pernah berhenti belajar. Lebih dari itu, ia justru memanfaaatkan jaringan
pergaulannya untuk belajar berbagai bidang pengetahuan dari kawan-kawannya yang
Eropa. Bagi seorang pribumi tanpa kekayaan yang melimpah, adakah cara lain
untuk menguasai ilmu botani, ilmu ukur tanah, geologi, paleontologi hingga filsafat
selain berguru dari orang lain? Sama halnya dengan sosok Raden Saleh,
demikianlah hendaknya kita juga menyikapi perbedaan. Dengan adanya perbedaan,
kita dapat saling melengkapi dan berguru satu sama yang lain.
3. Jalin Persahabatan!
Di balik sekelumit perbedaan, tentu terdapat secercah
sinar persamaan. Pada kelas XI-IPA 2, contohnya, sekalipun terdapat perbedaan
di antara kami, tak dapat dipungkiri, kami pun melihat adanya
persamaan-persamaan yang mampu menjembatani hasrat menjalin persahabatan satu
sama yang lain. Terkadang, persamaan tersebut terletak pada hal-hal kecil,
seperti tim sepak bola favorit. Di lain waktu, persamaan dapat pula terletak
pada hal-hal yang lebih besar, layaknya keinginan untuk naik kelas maupun cita-cita
di masa mendatang.
Akhir kata, jangan mau kalah dengan
perbedaan-perbedaan yang merintangimu. Tetap semangat dalam membangun
jembatan-jembatan perkawanan dengan siapa saja, seperti yang dilakukan sang
maestro – Raden Saleh.


0 komentar:
Posting Komentar